Permintaan Bintang

Tak seperti biasanya, kali ini langit cerah tanpa kabut awan mendung yang akhir-akhir ini sering menghinggapi langit kota Bogor. Malam ini, bulan purnama bersinar penuh di atas kota Bogor. Bintang-bintang pun tak luput dari pemandangan malam itu. Bulan seolah-olah menjadi raja ditengah para bintang-bintang dengan langit sebagai istananya.
Tania, Tiwi, dan Arya duduk di beranda rumah Tania sembari asyik menikmati pemandangan yang menakjubkan itu. Melihat bintang berkelap-kelip memang sudah menjadi kebiasaan ketiga bocah berusia 7 tahun itu.
“Hei, kalian percaya tidak dengan mitos bintang jatuh?” suara lembut Tania memecahkan tembok kebisuan di antara ketiga sahabat itu. Matanya tak lepas dari bintang-bintang di atas sana.
“Mitos bintang jatuh? Apa itu?” tanya satu-satunya anak laki-laki di antara mereka dengan lugunya.
Tiwi mendesah mendengar kata-kata Arya barusan. “Ya ampun! Mitos bintang jatuh, kalau ada bintang jatuh, trus kita berdoa minta sesuatu yang kita inginkan, keinginan kita itu pasti terkabul!” sahut Tiwi dengan lagaknya yang sok tahu.
Arya hanya memandang Tiwi, sahabat sekaligus tetangganya itu dengan wajah penuh tanya. “Kenapa bisa begitu?”
“Mana aku tahu! Itu kan hanya mitos,” Tiwi berkata dengan sebal. Tania yang sedari tadi diam, hanya tertawa menyaksikan tingkah kedua sahabatnya itu.
Ketika tengah asyik bersenda gurau, Tania kembali memalingkan pandangannya kearah bulan dan bintang yang seakan tersenyum kepadanya dan juga Tiwi dan Arya. Setiap kali melihat bintang, seakan ada sebuah perasaan senang yang menyelinap masuk ke dalam hatinya. Perasaan senang yang berlimpah ruah, bahkan ketika Tani sedang sedih. Itulah mengapa Tania sangat senang melihat bintang. Begitu juga dengan Tiwi dan Arya.
Tiba-tiba, dari sudut matanya, Tania melihat sebuah sinar yang bergerak ke bawah. Sinar itu cukup terang dan indah. Sekejap kemudian, Tania segera berseru, “Wi, Ya! Lihat! Ada bintang jatuh!” sambil menunjuk ke arah sinar yang bergerak ke bawah tersebut.
“Bener! Bintang jatuh! Ayo kita berdoa” ajak Arya yang kemudian menangkupkan tangannya di depan dada dan memejamkan matanya. Melihat tingkah Arya, Tania dan Tiwi juga ikut melakukan hal yang sama. Mereka berdoa dan berharap permintaan mereka dapat dikabulkan oleh bintang jatuh.
Sejenak, suasana kembali mencekam. Keheningan mulai merayap di antara mereka bertiga. Hanya suara jangkrik dan binatang malam yang mengisi gendang suara mereka.
Hingga akhirnya ketiganya telah selesai memanjatkan doa dan mulai membuka mata sambil menggumamkan kata ‘Amin’.
“Kalian berdoa meminta apa?” ucap Tiwi seraya memandang Tania dan Arya secara bergantian.
“Kamu duluan dong! Nanti baru aku dan Arya kasih tahu apa yang kita minta” kata Tania. Arya mengangguk tanda ia menyetujui pernyataan Tania barusan.
“Ya udah. Tadi, aku minta supaya ayahku datang ke sini untuk jemput aku. Aku sudah kangen dengan keluarga di Lampung”
Mungkin memang itu satu-satunya hal yang paling diinginkan Tiwi. Sudah 2 tahun, ayahnya menitipkannya ke Tantenya yang ada di Bogor ini. Ayahnya tidak bisa menanggung hidup Tiwi sebab perusahaan ayahnya sedang kritis ketika itu. Tapi, ayahnya berjanji akan menjemput Tiwi kembali ke Lampung kalau keadaanya sudah memungkinkan.
“Kalau kamu Tania?” suara Tiwi kembali terdengar.
“Aku minta supaya papaku cepat pulang dari Kalimantan. Trus, aku sama papa sama mama bisa berkumpul lagi dan bersama-sama”
Ayah Tania yang seorang perwira TNI memang sering dipindahkan dari satu kota ke kota lain. Namun, karena Tania masih kecil, jadi hanya ayahnya saja yang berpindah tempat.
“Kalau Arya pengennya dibeliin mobil balap mainan yang besar!” seru bocah laki-laki itu dengan riangnya.
“Ngapain Arya minta mobil mainan? Tanpa dimintapun, orangtua Arya pasti beliin Arya” celoteh Tiwi. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya yang satu ini.
“Pokoknya yang penting, semoga keinginan kita tercapai. Amin!” ujar Tania disertai kata ‘amin’ dari kedua temannya.
“Memangnya mitos bintang jatuh benar-benar terkabul? Hahahaha” seru Arya sambil tertawa. Ketika tertawa, matanya menyipit membentuk bulan sabit terlihat sangat menggemaskan. Apalagi suara tawa Arya yang cukup unik. Membuat siapa saja yang mendengar tawa Arya solah-olah ingin ikut tertawa juga.
Dan Tania beserta Tiwi pun ikut tertawa riang. Mereka bertiga tertawa dibawah naungan langit malam yang indah. Bintang-bintang seakan mengedipkan mata kepada mereka yang tengah ber-ria hati.

Malam selanjutnya, mereka bertiga kembali berkumpul untuk melakukan hobi mereka itu. Namun kali ini yang muncul bukanlah bulan purnama. Melainkan sebuah bulan yang tak lagi bersinar penuh. Ada bagian bulan yang gelap sehingga membentuk bulan yang tidak bulat sempurna.
Seraya melihat bintang, Tiwi tersenyum. Lalu, ia menolehkan wajahnya kearah wajah kedua sahabatnya. “Kurasa mitos bintang itu benar-benar nyata, deh!” katanya.
“Apa maksudmu?” tanya Tania bingung.
“Kalian ingat apa yang aku minta kemarin? Permintaanku terkabul!” sahut Tiwi. Senyuman ceria masih singgah di wajah manisnya.
“Permintaanku juga terkabul! Kemarin setelah pulang dari rumah Tania, mama baru pulang dari mall trus aku dibeliin mobil mainan besar yang ada remote kontrolnya” tambah Arya. Sama seperti Tiwi, ia juga tersenyum.
“Kok permintaanku sendiri yang tidak terkabul?” ujar Tania dengan wajah sedih.
“Aku juga nggak tahu, Tan! Tapi tadi pagi, ayah telfon, katanya ayah mau jemput aku! Tanteku juga akan pulang ke Lampung!” seru Tiwi riang
“Yah, jadi kita akan berpisah?” tanya Tania lagi. Berbeda dengan 10 detik yang lalu, kini wajah Tiwi berubah sendu.
“Arya nggak pengen kita berpisah” gumam Arya. Arya memandang wajah sedih Tiwi dengan tajam.
“Maaf teman-teman. Tapi, aku benar-benar sudah kangen dengan ibuku dan kedua adikku” kata Tiwi. Nada sedih terlihat jelas dari setiap kata-katanya.
“Tapi, Arya berharap, kita bisa bertemu lagi setelah besar nanti!” kata Arya. Tania dan Tiwi mengangguk menyetujui perkataan Arya. Meski Tiwi baru 2 tahun, ia mengenal Arya dan Tania, tapi mereka berdua benar-benar sosok sahabat sejati yang pasti akan selalu ia rindukan.
Arya mengangkat kedua tangannya untuk merangkul pundak Tania dan Tiwi. Hal yang sama juga dilakukan Tania dan Tiwi sehingga mereka kini berpelukan. Rasanya, tak ada yang lebih indah selain ketika kita berada di sisi sahabat yang selalu mengerti keadaan kita.
Kalau mengikuti kata hati, rasanya ketiga bocah berusia 7 tahun itu sangat tak ingin kehilangan satu sama lain. Tapi kenyataan berkata lain.

5 hari setelah kepergian Tiwi, Arya dikejutkan kabar yang sangat tak ingin didengarnya. Ayah Tania telah pulang kebogor, tapi Tania sekeluarga akan ikut bersama ayahnya untuk pindah ke kota lain lagi. Begitu kata mamanya. Siang itu, Arya,papanya dan mamanya pergi ke Bandara untuk mengantar keluarga Tania yang akan menuju kota Surabaya, kota berikutnya yang ditugaskan untuk ayah Tania.
Sesampainya di sana, ternyata 20 menit lagi pesawat Tania akan lepas landas. Arya segera berlari menuju Tania dan menarik lengan Tania. Ia pun mengajak Tania untuk menjauh sedikit dari keramaian.
“Maaf ya, Arya!” ujar Tania lirih. Ia benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi. Dan itu semua karena permintaan bintang. Ia sendiri yang meminta agar keluarganya selalu bersama.
Arya hanya terdiam sambil memandang Tania lekat-lekat. Sama seperti yang ia lakukan kepada Tiwi sebelumnya.
“Kenapa Arya memandangku seperti itu? Tenang aja, masih banyak kok teman-teman di sini yang ingn bersahabat dengan Arya!”
“Nggak. Arya hanya mau mengingat-ingat wajah Tania” kata Arya. Mendengar jawaban Arya, Tania merengkuh bocah itudengan erat. Arya adalah sahabatnya sejak kecil dan rasanya pasti sangat sulit untuk pergi jauh dari teman sepermainannya itu.
Arya pun begitu. Anak laki-laki imut itu membalas pelukan Tania. Begitu berat rasanya memutuskan persahabatan yang terjalin sejak mereka berdua lahir ke dunia ini.
Kalau Arya boleh memohon, ingin rasanya ia, Tiwi, dan Tania tidak memohon pada bintang jatuh. Permohonan yang akhirnya justru meretakkan persahabatan yang terbina di antara Arya, Tania, dan Tiwi.

-THE END-
By Indah Puspitawati

2 Komentar »

  1. deogs Berkata:

    Salam Kenal ! numpang mejeng ! :)


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.